![]() |
| Gambar : Ani Rafflin, Kaderisasi Himpass |
Himpass.com, Sumenep - Menjadi mahasiswa bukanlah sekadar rutinitas administratif di ruang kuliah atau pergantian lembar tugas. Bagi putra-putri daerah kepulauan—seperti Sapeken—status "mahasiswa" adalah sebuah narasi panjang yang telah dikonstruksi jauh sebelum mereka menapaki gerbang universitas. Narasi ini lahir dari rumah-rumah pesisir, diiringi deru mesin perahu di kala subuh, dan ditempa oleh determinasi orang tua yang bertaruh nyawa melawan anomali cuaca demi satu tujuan: masa depan generasi penerusnya.
Setiap rupiah yang terbayar dalam tagihan UKT bukanlah sekadar angka nominal. Ia adalah kristalisasi dari keringat dan pertaruhan nyawa di tengah samudra. Di sana, orang tua mahasiswa kepulauan menghadapi realitas alam yang tidak mengenal belas kasihan. Angin dan gelombang adalah tantangan harian yang harus ditaklukkan demi menjamin mobilitas vertikal anak-anak mereka melalui pendidikan.
Pendidikan dipandang sebagai instrumen vital untuk memutus rantai kemiskinan dan membuka jalan menuju kehidupan yang lebih layak. Kehebatan mereka terletak pada ketabahan; bekerja melampaui batas fisik tanpa keluhan, hanya dengan satu pesan retoris yang sarat makna: "Belajarlah yang benar."
Dinamika kehidupan kampus, tekanan akademik, serta gegar budaya di tanah perantauan seringkali menjadi beban mental bagi mahasiswa. Namun, bagi mahasiswa kepulauan, kelelahan itu seketika luruh saat membayangkan raut wajah orang tua yang terdegradasi oleh terik matahari.
Tangan-tangan yang mengeras dan retak karena air garam adalah stimulus yang membakar semangat untuk tetap melangkah. Setiap kali rasa jenuh menghampiri, ingatan akan perjuangan di tengah laut menjadi pengingat bahwa gelar sarjana ini bukan sekadar pencapaian ego pribadi, melainkan sebuah hutang budi yang luhur.
Mahasiswa kepulauan memiliki resiliensi yang kuat karena mereka memikul ekspektasi kolektif. Mereka sadar akan keterbatasan akses, minimnya fasilitas, dan isolasi geografis yang selama ini membelenggu daerah asal mereka. Oleh karena itu, mimpi mereka bersifat transformatif:
Meraih Gelar: Sebagai bukti kompetensi intelektual.
Membawa Perubahan: Menjadi agen pembaharu bagi tanah kelahiran.
Rekonstruksi Sosial: Membangun daerah dengan pengetahuan yang diperjuangkan secara heroik.
Pada akhirnya, gelar akademik yang diraih adalah kemenangan kolektif. Ia adalah kelanjutan dari pengabdian orang tua yang tidak mengenal jeda. Mimpi ini berakar dari peluh yang asin dan cinta yang tanpa pamrih. Ketika toga dikenakan dan ijazah digenggam, itu bukanlah akhir perjalanan, melainkan perayaan atas kemenangan seluruh keluarga atas setiap ombak yang pernah mereka hadapi.
Penulis : Ani Rafflin
Editing : Fauzi
