Notification

×

Iklan

Iklan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Satu Tahun Kepemimpinan Fauzi–Imam, Evaluasi Pembangunan Kepulauan Masih Menyisakan Catatan Kritis

| Sabtu, Februari 21, 2026 WIB

 

Foto: Faisal Islmi, Aktivis Kepulauan



Himpass.com, Sumenep - Memasuki satu tahun masa kepemimpinan Bupati dan Wakil Bupati (Fauzi–Imam), evaluasi terhadap capaian pembangunan di wilayah kepulauan menunjukkan sejumlah persoalan mendasar yang belum tertangani secara optimal. Di tengah publikasi keberhasilan pembangunan di wilayah daratan, kondisi di Kecamatan Sapeken masih menghadapi tantangan serius, khususnya pada sektor pelayanan kesehatan dan ketersediaan energi listrik.


Secara faktual, persoalan listrik di Kepulauan Sapeken masih bersifat struktural. Ketergantungan pada Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dengan dukungan daya yang terbatas menyebabkan pasokan energi rentan terganggu, terutama saat kondisi cuaca tidak mendukung. Pemadaman yang berlangsung berhari-hari tidak hanya menghambat aktivitas ekonomi masyarakat, tetapi juga berdampak pada efektivitas layanan publik, termasuk fasilitas kesehatan dan pendidikan.


Dalam perspektif pembangunan wilayah kepulauan, ketersediaan energi bukan sekadar kebutuhan teknis, melainkan prasyarat dasar bagi peningkatan kualitas hidup. Ketika akses listrik tidak stabil, maka produktivitas masyarakat dan standar pelayanan publik sulit mengalami peningkatan signifikan.


Di sektor kesehatan, tantangan yang dihadapi relatif serupa. Akses terhadap layanan medis yang representatif masih terbatas, baik dari aspek sarana, prasarana, maupun dukungan operasional. Secara geografis, karakter kepulauan yang terpisah jarak dan bergantung pada transportasi laut memperbesar konsekuensi dari setiap keterbatasan layanan. Hal ini berpotensi memperlebar disparitas pembangunan antara wilayah daratan dan kepulauan.


Kondisi tersebut menjadi paradoks apabila dikaitkan dengan potensi ekonomi wilayah. Sapeken merupakan salah satu sentra perikanan strategis di Kabupaten Sumenep, dengan komoditas hasil laut yang berkontribusi terhadap perekonomian daerah. Selain itu, keberadaan objek vital nasional di sektor migas, Migas Kangean Energy di Pulau Pagarungan Besar menunjukkan bahwa wilayah ini memiliki nilai strategis secara ekonomi dan energi.


Namun demikian, kontribusi sumber daya tersebut belum sepenuhnya terkonversi menjadi penguatan infrastruktur dasar dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. Dalam kerangka tata kelola pembangunan, kondisi ini mengindikasikan perlunya afirmasi kebijakan yang lebih progresif dan distribusi anggaran yang berbasis kebutuhan riil wilayah kepulauan.


Satu tahun kepemimpinan memang belum cukup untuk menyelesaikan kompleksitas persoalan struktural. Akan tetapi, periode tersebut semestinya sudah dapat menunjukkan arah kebijakan yang inklusif dan keberpihakan yang terukur. Tanpa intervensi yang sistematis dan berkelanjutan, narasi pembangunan merata antara daratan dan kepulauan berisiko menjadi retorika administratif yang minim implikasi substantif bagi masyarakat kepulauan.


Penulis : Faisal Islami (Aktivis Kepulauan)
Editor : (.H)
×
Berita Terbaru Update