Notification

×

Iklan

Iklan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Hujan, Perantauan dan Prosesku Menemukan Danakan

| Minggu, Februari 15, 2026 WIB

 

Foto: Moh Jufri, Ketua Bid. Kaderisasi


Himpass.com, Sumenep - Hujan turun perlahan membasahi halaman kampus. Di bangku pojok kantin, aku duduk sendiri, memandangi butir-butir air yang jatuh satu per satu. Angin berhembus pelan, membawa dingin yang tak hanya menyentuh kulit, tetapi juga meresap hingga ke dada. Dalam suasana yang hening itu, aku seperti melihat diriku sendiri—seorang mahasiswa kepulauan yang datang merantau dengan semangat besar, namun kerap pulang dengan sunyi yang tak bersuara.

 

Menjadi mahasiswa dari wilayah kepulauan bukan sekadar soal berpindah tempat belajar; ia adalah proses adaptasi sosial dan psikologis yang tidak sederhana. Di tengah hiruk-pikuk kota, tak ada sapaan yang akrab tentang ombak, tentang listrik yang padam tiba-tiba, atau tentang sinyal yang hilang di malam hari. Realitas yang berbeda menciptakan jarak kultural yang halus namun terasa. Di bawah derasnya hujan, aku sempat bertanya dalam hati: apakah setiap perjuangan memang harus ditempuh dalam kesendirian?

 

Pertanyaan itu perlahan menemukan jawabannya ketika seorang kakak tingkat menghampiri. Sapanya sederhana, ajakannya pun tidak istimewa. Namun dari percakapan ringan itulah, langkahku diarahkan menuju sebuah perkumpulan mahasiswa Kepulauan Sapeken di Sumenep. Pertemuan itu tampak biasa, tetapi dampaknya mengubah arah batinku.

 

Di sanalah aku menemukan apa yang sebelumnya tak kumiliki: ruang berbagi dan kesadaran kolektif. Kami berbincang bukan hanya tentang tugas dan perkuliahan, melainkan tentang kampung halaman, tentang ketertinggalan struktural yang ingin kami perbaiki, serta tentang mimpi-mimpi yang ingin kami perjuangkan bersama. Dalam lingkaran kecil itu, tumbuh rasa senasib yang melampaui sekadar pertemanan. Aku mengenal satu kata yang lebih dalam maknanya—Danakan—sebuah persaudaraan yang lahir bukan dari pertalian darah, melainkan dari kesamaan perjuangan dan pengalaman hidup.

 

Perkumpulan itu bernama Himpunan Mahasiswa Kepulauan Sapeken Sumenep (HIMPASS). Ia bukan sekadar organisasi, melainkan ruang pembentukan identitas dan kesadaran sosial. Di sana, kesepian perlahan bertransformasi menjadi kekuatan kolektif. Para perantau menemukan rumah kedua, dan suara-suara kecil dari kepulauan belajar untuk berani berbicara di ruang publik.

 

Sejak hari itu, hujan tak lagi terasa sebagai simbol kesendirian. Ia justru menjadi saksi bahwa dalam setiap proses perantauan, manusia selalu mencari makna kebersamaan. Sebab pada akhirnya, perjuangan tidak dimaksudkan untuk dijalani seorang diri; ia menemukan nilai terdalamnya ketika dihidupi bersama. Dan di bawah hujan itulah, aku tak lagi sendiri.

 

Penulis: MOH.JUFRI, Universitas Wiraraja, Desa sapeken

Editor: (.H)


×
Berita Terbaru Update