![]() |
| Foto: Moh Jufri, Ketua Bid. Kaderisasi |
Himpass.com, Sumenep - Hujan
turun perlahan membasahi halaman kampus. Di bangku pojok kantin, aku duduk
sendiri, memandangi butir-butir air yang jatuh satu per satu. Angin berhembus
pelan, membawa dingin yang tak hanya menyentuh kulit, tetapi juga meresap
hingga ke dada. Dalam suasana yang hening itu, aku seperti melihat diriku
sendiri—seorang mahasiswa kepulauan yang datang merantau dengan semangat besar,
namun kerap pulang dengan sunyi yang tak bersuara.
Menjadi mahasiswa dari
wilayah kepulauan bukan sekadar soal berpindah tempat belajar; ia adalah proses
adaptasi sosial dan psikologis yang tidak sederhana. Di tengah hiruk-pikuk
kota, tak ada sapaan yang akrab tentang ombak, tentang listrik yang padam
tiba-tiba, atau tentang sinyal yang hilang di malam hari. Realitas yang berbeda
menciptakan jarak kultural yang halus namun terasa. Di bawah derasnya hujan,
aku sempat bertanya dalam hati: apakah setiap perjuangan memang harus ditempuh
dalam kesendirian?
Pertanyaan itu perlahan
menemukan jawabannya ketika seorang kakak tingkat menghampiri. Sapanya sederhana,
ajakannya pun tidak istimewa. Namun dari percakapan ringan itulah, langkahku
diarahkan menuju sebuah perkumpulan mahasiswa Kepulauan Sapeken di Sumenep.
Pertemuan itu tampak biasa, tetapi dampaknya mengubah arah batinku.
Di sanalah aku menemukan apa
yang sebelumnya tak kumiliki: ruang berbagi dan kesadaran kolektif. Kami
berbincang bukan hanya tentang tugas dan perkuliahan, melainkan tentang kampung
halaman, tentang ketertinggalan struktural yang ingin kami perbaiki, serta
tentang mimpi-mimpi yang ingin kami perjuangkan bersama. Dalam lingkaran kecil
itu, tumbuh rasa senasib yang melampaui sekadar pertemanan. Aku mengenal satu
kata yang lebih dalam maknanya—Danakan—sebuah persaudaraan yang lahir bukan
dari pertalian darah, melainkan dari kesamaan perjuangan dan pengalaman hidup.
Perkumpulan itu
bernama Himpunan Mahasiswa Kepulauan Sapeken Sumenep (HIMPASS). Ia bukan
sekadar organisasi, melainkan ruang pembentukan identitas dan kesadaran sosial.
Di sana, kesepian perlahan bertransformasi menjadi kekuatan kolektif. Para
perantau menemukan rumah kedua, dan suara-suara kecil dari kepulauan belajar
untuk berani berbicara di ruang publik.
Sejak hari itu, hujan tak
lagi terasa sebagai simbol kesendirian. Ia justru menjadi saksi bahwa dalam
setiap proses perantauan, manusia selalu mencari makna kebersamaan. Sebab pada
akhirnya, perjuangan tidak dimaksudkan untuk dijalani seorang diri; ia
menemukan nilai terdalamnya ketika dihidupi bersama. Dan di bawah hujan itulah,
aku tak lagi sendiri.
Penulis: MOH.JUFRI, Universitas Wiraraja, Desa sapeken
Editor: (.H)
.png)