Notification

×

Iklan

Iklan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12

Dari Ombak ke Kampus: Perjalanan Mimpi

| Sabtu, November 29, 2025 WIB
Gambar : Moh. Jufri Kaderisasi Himpass


Himpass.com, Sumenep - Menjadi mahasiswa bukan sekadar soal hadir di ruang kuliah, mencatat materi, atau mengerjakan tugas. Bagi banyak anak kepulauan, terutama dari daerah seperti Sapeken, status “mahasiswa” adalah cerita panjang yang dimulai jauh sebelum langkah pertama menapaki gerbang kampus.


Cerita itu dimulai dari rumah kecil di tepi laut, dari suara mesin perahu yang meraung subuh-subuh, dan dari tubuh orang tua yang berjuang melawan gelombang ombak, terik matahari, dan dinginnya malam demi satu hal: masa depan anaknya.


Setiap rupiah uang kuliah yang dibayar bukan sekadar angka, melainkan hasil dari perjalanan panjang di tengah laut—di mana ayah atau ibu bertaruh tenaga, waktu, bahkan keselamatan. Ombak tidak pernah ramah, angin tak selalu bersahabat, dan laut tidak mengenal belas kasihan.


Namun, orang tua tetap menantang itu semua. Mereka tahu pendidikan adalah tiket keluar dari lingkar kemiskinan, jalan menuju kehidupan yang lebih manusiawi. Dan yang paling menyakitkan sekaligus menguatkan adalah: mereka bekerja begitu keras tanpa pernah mengeluh. Mereka hanya bilang, “Belajarlah yang benar.”


Di kampus, mahasiswa sering dihadapkan pada tekanan akademik, lingkungan yang baru, dan kerasnya hidup perantauan. Tapi kalau mengingat wajah orang tua yang kulitnya menghitam terbakar matahari, atau tangan kasar mereka yang retak karena dingin malam di tengah laut, semua itu menjadi bahan bakar untuk terus melangkah.


Setiap kali rasa malas datang, setiap kali ingin menyerah, bayangan orang tua di tengah ombak seharusnya jadi pengingat bahwa kuliah ini bukan hanya tentang diri sendiri ini tentang balas budi yang tak akan pernah lunas.


Mahasiswa dari kepulauan punya alasan yang lebih besar untuk bertahan: mereka membawa harapan sebuah keluarga, bahkan harapan sebuah daerah. Mereka tahu betul kerasnya hidup di pulau kecil, minimnya fasilitas, jauhnya akses pendidikan, dan terbatasnya peluang kerja. Karena itu, mimpi mereka bukan hanya soal meraih gelar, tetapi juga membawa perubahan. Membangun kembali tanah kelahiran dengan pengetahuan yang mereka perjuangkan habis-habisan.


Pada akhirnya, mimpi mahasiswa bukanlah mimpi yang berdiri sendiri. Ia adalah kelanjutan dari kerja keras orang tua yang tidak mengenal libur. Mimpi itu lahir dari keringat yang asin, tubuh yang letih, dan cinta yang tidak pernah meminta imbalan. 


Dan jika suatu saat gelar itu berhasil didapat, maka itu bukan hanya kemenangan mahasiswa itu adalah kemenangan seluruh keluarga, seluruh perjalanan, dan seluruh ombak yang pernah dihadapi.



Penulis : Moh. Jufri

Editing : Fauzi

×
Berita Terbaru Update