![]() |
| Foto: Ani Rafflin, Anggota Bid.Kaderisasi |
Himpass.com,Sumenep - Temukan aku di antara hati yang patah, di lorong-lorong sunyi yang dipenuhi serpihan harapan. Di sana, tempat orang-orang menyimpan kecewa dalam diam, aku belajar bahwa luka bukanlah akhir dari segalanya. Ia hanya jeda, hanya ruang untuk bernapas sebelum kembali menata mimpi yang sempat runtuh. Jika kau mencariku, aku ada di sela-sela doa yang lirih, di antara air mata yang jatuh tanpa suara.
Temukan aku di antara mereka yang pernah dikhianati waktu. Pada jiwa-jiwa yang sempat percaya sepenuhnya, lalu dipaksa menerima kenyataan yang tak sesuai harapan. Di situ aku berdiri, merangkai kembali serpihan keyakinan, meyakinkan diri bahwa patah bukan berarti hancur. Sebab hati yang retak justru mengajarkan bagaimana caranya menguat tanpa banyak bicara.
Temukan aku pada senja yang redup, ketika langit memerah seperti menahan perih. Aku adalah seseorang yang memilih bertahan meski berkali-kali hampir menyerah. Di antara tawa yang dipaksakan dan senyum yang disembunyikan, ada tekad yang tak ingin mati. Aku percaya, setiap patah akan menemukan utuhnya sendiri, pada waktunya.
Dan jika suatu hari kau lelah dengan dunia yang tak selalu ramah, datanglah. Temukan aku di antara hati yang patah, karena di sanalah empati tumbuh paling subur. Kita mungkin tak sempurna, namun dari retak yang sama, kita bisa saling memahami. Bukankah kadang, pertemuan terbaik justru terjadi di antara mereka yang sama-sama pernah terluka?
Sebab pada akhirnya, luka adalah bagian dari dialektika kehidupan, sebuah proses menjadi yang tak pernah selesai. Seperti yang diajarkan waktu, retak bukan sekadar tanda kerusakan, melainkan ruang tempat cahaya menemukan celahnya. Dari patah kita belajar makna, dari kehilangan kita memahami nilai, dan dari rapuh kita mengenali kedalaman diri. Maka hati yang pernah terluka sesungguhnya sedang menempuh perjalanan menuju kebijaksanaan: menyadari bahwa utuh bukan berarti tanpa retak, melainkan mampu menerima retak sebagai bagian dari keberadaan.
Penulis: Ani Rafflin
Editor: (.H)
