![]() |
| Foto: Ilustrasi |
Di usia yang hampir dua puluh, aku tidak lagi benar-benar remaja, tapi juga belum sepenuhnya dewasa. Aku berdiri di sebuah persimpangan yang tak terlihat di peta mana pun, persimpangan antara harapan dan ketakutan, antara mimpi dan realita.
Banyak orang bilang, usia ini adalah masa emas. Masa untuk
berlari sejauh mungkin, mencoba sebanyak mungkin, gagal lalu bangkit lagi. Tapi
tak banyak yang bercerita bahwa di usia ini, kita juga sering merasa tersesat.
Kita tersenyum di depan banyak orang, tapi diam-diam bertanya pada diri
sendiri, “Sebenarnya aku mau jadi apa?”
Aku sedang belajar mengenali diriku sendiri. Apa yang
benar-benar aku inginkan, dan apa yang hanya aku lakukan demi memenuhi
ekspektasi orang lain.
Tidak mudah membedakan suara hati dengan suara dunia. Kadang
keduanya terdengar begitu mirip.
Sebagai mahasiswa, aku duduk di ruang kelas, mendengarkan
teori tentang masa depan. Namun di dalam hati, aku masih meraba-raba bentuk
masa depanku sendiri.
Aku belajar banyak hal dari buku, tapi tentang hidup, aku
masih belajar dari kegagalan, dari kecewa, dari perbandingan yang tak pernah
selesai.
Di usia yang hampir dua puluh, aku sedang belajar menerima
bahwa tidak apa-apa jika belum punya semua jawaban. Tidak apa-apa jika
langkahku belum secepat orang lain. Setiap orang punya waktunya sendiri untuk
sampai.
Aku tidak ingin sekadar tumbuh.
Aku ingin bertumbuh dengan sadar. Mengambil keputusan dengan berani. Mengakui takut, tapi tetap melangkah.
Mungkin hari ini aku masih mencari arah. Tapi setidaknya,
aku tidak berhenti berjalan. Dan mungkin, arah itu bukan sesuatu yang ditemukan
dalam satu malam, melainkan sesuatu yang dibentuk perlahan, dari setiap langkah
kecil yang aku pilih setiap hari.
Di usia yang hampir dua puluh, aku memang belum sampai. Tapi
aku sedang menuju. Dan itu sudah cukup.
Penulis: Risqiyah kader Himpass,25
Editor: (.H)
.png)